visitors'

Senin, 17 Maret 2014

TEMAN DEMI TEMAN

Ujian Nasional SD pun telah selesai, saatnya memikirkan mau masuk SMP mana? kalau bisa sih SMP Negeri, apalagi SMPN yang bertaraf Internasional. Di senderan tiang berwarna hijau tua aku bersandar sambil melamun memikirkan mau ke SMP mana, padahal saya sudah dapat jalur undangan masuk SMP Negeri tanpa test atau PMPA karena selama 6tahun alhamdulillah hasilnya sangat excellent. Ketika saya sedang melamun sendirian, tiba-tiba saya kaget karena dia mengagetkan saya.
"Heh ngelamun aja kamu Nis, entar dimasukkin sama kolong wewe mau?", takutnya.
"kamu tu kolong wewe nya :-p", candaku.
"kalo kolong wewenya aku sih aku sangat mau aja", maunya.
"heeh kamu ini -__-", jawabku.
"ngelamun kenapa? mikirin aku?", GRnya.
"bukan, tapi mikirin mau masuk mana -.-", bingungku.
"masuk apaan? masuk kelas? kan kita udah free sekarang", tanyanya.
"bukan itu, tapi SMPnya bingung mau kemana -.-", jawabku.
"SMPN 50 kan kita dapet jalur undangan, gak usah dipikirin kita udah gratis masuk sana", jawabnya.
"kamu gak ke sekolah unggulan?", tanyaku.
"pasti dong, aku mau test SMPN 1", pastinya.
"aku juga pingin, tapi ayah aku gak akan pernah kasih izin kalau aku masuk sana", sedihku.
"dicoba dulu test SMPN 1, kalau lulus pasti dibolehin", ujarnya.
"itupun kalau lulus, sekarang kan belum test -,-. Siapa coba yang nganter ke sana setiap test?", bingungku.
"kan ada aku", sotoynya.
"jalan kaki dari sini ke bukit sana?", tanyaku.
"enggaklah oon kamu :-p (sambil nabok jidat)", katanya.
"terus naik apa?", tanyaku.
"naik motor dong", jawabnya.
"emang bisa pakai motor?", tanyaku jelas.
"kan ada bapak, kita BOTI", sarannya.
"BOTI?????", seriusku.
"iyaaa boti masak BOPAK", katanya.
"apa itu BOPAK?",tanyaku.
"BONdan PrAKoso", jawabnya sotoy.
Yaudah, akhirnya saya mau BOTI bareng dia dan bapaknya untuk test SMPN 1 Palembang tanpa izin dan sepengetahuan orang tua, semalaman kita giat banget belajar untuk test sekolah unggulan itu. Sampe-sampe orang tua bingung kenapa saya sangat giat belajar padahal Ujian Semester 2 telah selesai, Ujian Nasional telah selesai, dan saya tanpa test masuk SMP Negeri.
-
Besok pagi, kakakku mengantarku ke sekolah pagi-pagi karena SDku dekat dengan SMA kakakku jadi kita barengan, tapi sayangnya kakakku hanya mengantarku sampai didepan GOLF karena dia dengat lagi telat. Saya berjalan dari GOLF ke SD ku lumayan jauh 100m lebih jaraknya. Ketika saya sampai di depan SD bukannya langsung berangkat tapi seperti biasa pemanasan mulut.
"Lama banget datangnya, telat entar", marahnya.
"Maaf, tadi aku berjalan dari depan kesini", maafku.
"kok beda ya hari ini?", tatapannya.
"Beda apaan?", tanyaku.
"tumben wangi, tumben rapi, tumben cantik, rambut pakek sepen micky mouse", pujinya.
"emang dari dulu aku cantik :-p", candaku.
"eh beneran Nis cantik banget hari ini", pujinya.
"udah ah, yok berangkat, telat nih", alihanku.
Ketika naik motor, entah gak tau kenapa kita salah terus naiknya. Pertama dia yang naik motor, tubuh dia malah menghadap ke belakang, sambil melihat aku, saya sangat malu dan ketawa melihat tingkah laku dia. Yang kedua, saya naik motor duduknya miring beneran seperti cewek tulen bener wkwk, dianya hanya ketawa saja.
"kamu hari ini beda banget Nis, pertama dandanan kamu cewek tulen banget, biasanya tomboy, sekarang duduknya miring", herannya.
"kenapa emang gak boleh jadi cewek beneran?", tanyaku.
"boleh sih, tapi kalau kamu duduk miring, aku gak bisa duduk, kamu duduk ngangkang ya", suruhnya.
Akhirnya kita naik motor juga, kasihan lihat Bapaknya dari tadi mendengar omongan kami saja, kasihan juga Bapaknya mau kerja tapi mau telat gara-gara kami, akhirnya kita BOTI naik motor MegaPro warna hitam, bapaknya didepan, saya ditengan, dan dia dibelakang, saya cewek sendirian haha :-D. Sambil dijalan kita saling mengingatkan tentang pelajaran, dan juga masih sempet untuk berdebat. Di lampu merah kita ketemu banci yang kesiangan sepertinya habis mangkal di KI semalam, banci itu sambil mengamen dan bernyanyi
"ola ole olalala sweet olalala, aduh mas-mas ganteng pagi-pagi mau kerja, bagi uangnya dong mas", nyanyi dan rayuannya.
Ternyata yang lucunya, dia phobia banget sama yang namanya banci karena kepala dia menempel dipunggungku sambil ketakutan. Bancinya pun mendekati kami, dianya semakin takut dan sangat ketakutan. Akhirnya lampu pun hijau, bancipun ketinggalan hahaha :-D.
Dia pun masih sangat phobia dan kepalanya masih menempel dipunggungku, ketika tiba di SMPN 1 dia pun masih menempel dipunggungku.
"bangun!bangun!bangun!", paksaku.
"udah sampe?", tanyanya.
"udah dari tadi", kataku.
"maaf ya Nis baju kamu basah", maafnya.
"iya gak apa-apa, aku tahu kamu kan phobia sama banci jadi kamu nangis", kataku.
"emang tadi ada banci? dimana?", tanyanya.
"ada, dilampu merah Charitas tadi".
"aku tadi tidur soalnya aku ngantuk", katanya.
"baju aku basah gara-gara apa?", tanyaku curiga.
"maaf aku tadi ileran tadi", jujurnya.
"busuk mam busuk", sebelku.
Ketika kita masuk di ruang 9, kita hampir telat, dia duduk didepan saya, dan saya dibelakangnya, namun ketika saya mengisi LJK ada cewek dibelakang saya dengan mulutnya yang sangat besar.
"ihh bauk iler, siapa woy yang belum mandi disini busuk nian", teriaknya.
astafirullah saya hanya diam dan pura-pura tidak tahu, benaran saya sangat malu, dia pun menoleh ke belakang sambil ketawa.
Soal-soal pun dibagikan oleh pengawas, dengan mengucap basmallah dan 2kalimatsyahadat saya pun siap menjawab soal-soal dan yakin lulus. Kita sekelas konsentrasi, gak ada lagi orang yang teriak, gak ada lagi bau iler, semuanya diam. 100menit lebih kita mengerjakan soal-soal, lagi-lagi dia yang selesai duluan mengerjakannya, dan saya pun belum selesai. Namun, kali ini dia tidak memberi kunci jawabannya kepadaku mungkin karena dia pingin banget bersaing denganku atau ada pengawas yang selalu berdiri disebelah kami. Dia pun menungguku didepan pintu kelas. Waktupun habis, alhamdulillah saya pun selesai tepat waktunya dan terisi semua, ketika saya keluar kelas, dianya menghilang, susana diluar panas, dan saya pun mencari dia tak tahu kemana, akhirnya baju dipunggung saya pun basahnya telah kering dan tidak bau iler lagi. Oh Terimakasih matahari :-). Saya mencarinya ke kantin, ketika di kantin perutku lapar dan ketika saya melihat di saku baju saya lupa membawa uang jajan. Saya melihat dia sedang makan pempek sama cewek, saya pun menghampirinya.
"woy!!! dicariin malah ngilang kayak tuyul :-p", candaku.
"cantik-cantik kok woy!!, yang sopan Nis malu dilihat Saras", katanya.
"Oh namanya Saras, kenalin aku Nisa", kenalku.
Ceweknya cantik, muslimah, berhijab pula, sopan, dan berkaca mata, sangat beda sama saya.
"kamu gak makan Nis?", tanyanya.
"enggak, udah kenyang", kataku.
"kenyang? makan apa?", tanyanya.
"makan nasi gemuk tadi pagi sebelum pergi sekolah", bohongku.
"tumben sarapan, biasanya gak pernah sarapan", curiganya.
"hahaha emang harus aku cerita sama kamu kalau aku sarapan", kataku.
Mereka berdua sangat akrab, mereka berdua seru banget ceritanya, sampe-sampe saya dicuekkin, sepertinya hatiku sakit atau perutku yang lapar ya, soalnya letak hati dan perut sangat berdekatan. Saras pun pulang karena dia telah dijumput. Saya pun diajak dia untuk mengantar Saras ke depan gerbang, lagi-lagi saya berjalan di belakang mereka dengan kondisi perut yang sangat lapar. Akhirnya tinggal kita berdua saja, menunggu bapaknya menjemput kami sangat lama, karena bapaknya kerja. 1jam kita menunggu dengan kondisi perutku yang sangat lapar, akhirnya bapaknya datang.
Ketika dijalan yang sangat panas, saya pun semakin lapar, dia melihatku dengan curiga.
"Kamu sakit?", tanyanya.
"enggak", kataku lemes.
"muka kamu pucet, tangan kamu dingin", cemasnya.
"cuacanya yang dingin", alasanku.
"cuaca sangat panas begini", katanya.
Akhirnya dia berbicara kepada bapaknya.
"Pak, Nisa sakit, kita ke dokter sekarang", perintahnya,
Setelah itu, Bapaknya langsung membawaku ke RS. Charitas, aku merasa gak enak sama Bapaknya dan dia yang sangat terlalu baik sama aku hari ini, ketika di check up sama dokter, ternyata penyakit saya "lapar".
"kamu kok dari tadi gak bilang kalau belum makan?", tanyanya.
"aku lupa bawak duit", jujurku.
"biasa aja sama aku, pasti aku traktir", katanya.
Bapaknya membelikanku nasi bungkus, dan saya pun memakannya, dengan rasa yang sangat tidak enak dengan Bapaknya karena kebaikkanya.
Setengah hari bersama mereka, rasanya seperti keluarga sendiri, saya hanya siswa pindahan tapi dengan dia sudah sangat dekat sekali.
Besoknya, kita melihat pengumuman kita berdua lulus test tertulis, kita berdua melaksanakan test selanjutnya. Ketika pengumuman penerimaan siswa SMPN 1 saya sangat senang karena saya lulus, namun saya sangat sedih karena dia tidak lulus.
"Selamat ya Nis, kamu emang lebih pintar dari aku", ucapannya.
"kamu juga pintar. Maaf ya", sedihku.
"maaf kenapa?", tanyanya.
"kamu yang bantu aku, tapi aku yang lulus :'(", sedihku.
"itu karena udah bagian kamu, aku seneng kok lihat kamu lulus", katanya.
"jadi, kamu masuk SMP mana?", tanyaku.
"SMPN 50, aku tetap mengambil jalur undangan", jawabnya.
"aku sedih :'(", jujurku.
"kenapa sedih? bangga dong", tanyanya.
"kita gak satu sekolah lagi, gak bisa sama-sama lagi", jujurku.
"masih bisa kok, pintu rumahku terbuka lebar luas untukmu", katanya.
Setelah kita melihat pengumuman tersebut, kita kembali ke SD dengan muka yang sedih.
Ketika di SD, kita berdua melapor tentang jalur undangan SMPN 50.
"bagaimana lulus di SMPN 1?", tanya buk Tuti.
"enggak buk :'(", kata dia.
"Fitria Annisa?", tanya buk Tuti.
"alhamdulillah lulus buk", jawabku.
"syukurlah, jadi (I) gimana PMPAnya?", tanya buk Tuti.
"diambil buk PMPAnya", jawabnya.
"kamu Nisa?", tanya buk Tuti.
"enggak buk", jawabku.
"PMPA kamu ibu kasih ke yang lain ya?", tanya buk Tuti.
"iya buk", jawabku.
"DEAL? sepakat?", tanya buk Tuti.
"deal buk, iya sepakat", jawabku.
Kita pulang kerumah masing-masing dengan muka yang sangat lesu dan diam. Ketika sampai dirumah, aku bilang sama ibuku kalau aku lulus SMPN 1, ibuku sangat bangga, kakak ku juga sangat bangga. Namun, ketika malam ayahku pulang kerja, saya berkata kepada ayah saya, namun hasilnya sangat berbalik ayahku sangat tidak setuju karena alasan tertentu. Akhirnya pun saya tidak mengambil sekolah unggulan tersebut, test tertulis SMPN 50 2hari lagi, seluruh F1 telah terkumpulkan dan saya besok datang ke SD berbicara kepada guru untuk test  SMPN 50, namun naasnya jalur undanganku telah hangus, jalan satu-satunya yaitu test tertulis. Akhirnya saya mengurus sendiri untuk ikut test SMPN 50 itu dengan jalan yang sangat sulit, saya pun merasa bahwa tak ada lagi ruang yang cukup dan tak ada lagi bangku yang kosong untuk saya test. Akhirnya saya bisa ikut test tertulis SMPN 50 dengan ruangan terakhir yaitu ruang 25 dan bangku terakhir yang tidak ada barisan disamping saya, bangku paling sudut pojok terakhir.
Besoknya saya test tertulis SMPN 50, dengan rasa yang tidak yakin lagi untuk masuk SMP Negeri, 2jam kurang waktunya selama test tertulis, saya pun bingung kenapa banyak yang sudah selesai siswa yang mengerjakannya, sedangkan saya pun masih konsentrasi, waktupun habis, dan saya telat mengumpulnya, dengan rasa lesu dan sedih sepertinya saya masuk SMP swasta.
Besok sore pengumuman kelulusan PSB SMPN 50, saya pun sedih karena nama saya belum dipanggil. Teman saya banyak searching diinternet mereka semua sudah tahu bahwa mereka telah lulus dan belum lulus.
"Nisa selamat ya lulus SMPN 50", kata temanku Hellen.
"kata siapa? nama aja belum dipanggil -,-", tanyaku.
"kamu ranking 40 di internet", katanya dgn yakin.
"salah lihat kamu, mungkin nama aku ada dua", jawabku.
"ini printannya, ini nomor kamu", kasihnya kertas.
Dalam hati sangat bangga, namun aku belum yakin. Dan akhirnya namaku pun dipanggil paling terakhir, ternyata memanggilnya melalui nomor peserta.
Besok kita pembagian kelas masing-masing, saya datangnya telat sebenarnya jam 3 di SMPN 50 namun saya datang jam setengah 4, saya mencari kelasku dimana, ketika aku membaca dikaca ada namaku dikelas itu, tiba-tiba ada yang menusuk tanganku dari dalam dengan pena. Maka, penanya langsung aku ambil dan aku menunduk ke bawah, ternyata dia yang jahil.
Akhirnya saya sekelas sama dia, dan saya duduk dibelakang dia.
"Bukannya kamu sekarang sekolah di SMPN 1?", tanyanya.
"bukannya ini SMPN 1?", pura-puraku.
"bukan, kamu salah alamat", katanya.
"tapi, namaku ada dikertas", kataku.
"gak percaya", jawabnya.
"lihat aja sendiri", kataku.
Jadi, dia keluar kelas dan melihat kertas ditempel dikaca jendela.
"kok bisa lulus sini? kan PMPAnya udah diambil sama orang lain", tanyanya bingung.
"ceritanya panjang, entar pulang ini kita cerita", jawabku.
"ceritain sekarang", paksanya.
"demi teman yang udah bantuin aku, aku gak bakal ninggalin kamu, kita itu harus sukses sama-sama, berhasil sama-sama, dan gagal sama-sama", jawabku tegas.
"kok kita bisa bersama terus ya?", bingungnya.
"karena ilermu yang masih menempel dibajuku dan membawaku terus dekat denganmu", candaku.
Sebaik-baik teman yang telah membantu kita, namun dia gagal, tapi kita berhasil karena bantuannya, apakah kita akan menerima keberhasilan diatas bantuan orang lain yang gagal? Tidak, kita hidup diciptakan Tuhan sama, maka kita hidup selalu bersama, gagal sama-sama, berhasil sama-sama, sedih sama-sama, senang sama-sama, dan sukses sama-sama. Namun, sekarang tempat dan kondisi yang memisahkan kita. Berharap kita ketemu lagi :-), entah kapan? dan entah dimana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar