visitors'

Rabu, 25 Juni 2014

KEJAR-KEJARAN SAMA POLISI

Nama saya Fitria Annisa, saya adalah wanita berhijab. Jika seorang laki-laki melihat saya mereka berpikir bahwa saya adalah wanita yang cantik, muslimah, sopan, dan suci. Namun kenyataannya saya adalah anak motor, saya tahu semua jalan di kota paling tertua di Indonesia ini yaitu Palembang, jalan tikus saya tahu bahkan jalan semut pun saya juga tahu, tidak ingin terkena macet hubungi saya, rumah pejabat di kota Palembang juga saya tahu, jumlah istri pejabat juga saya tahu, kasus para pejabat pun saya tahu karena melihat berita di TV :-D. Saya itu sangat terkenal di Palembang, pengamen, pengemis pun sangat tahu dengan wajah saya, bahkan Polisi pun sangat tahu dan saya adalah terorist motor.
Pertama kali, saya hampir terkena tilang oleh polisi, saya sedang bermotor sama kakak saya, kita hampir terkena tilang itu gara-gara motor kakak saya melewati garis putih panjang di lampu merah, kunci motor kita diambil sama polisi, kita disuruh ke pos polisi, ketika polisi memintai keterangan, polisi pun langsung menulis surat tilang, saya sangat kaget -_-,kakak saya sudah marah sama polisi langsung tilang saja.
  • "Pak saya ini keponakkan polisi pak, jadi jangan di tilang pak, mohon, cara damai", pintaku.
  • "Saya tidak perduli, kamu ponakkan presiden, polisi, gubernur, hukum harus berjalan", tegasnya.
  • "Bapak sebelum mau mentilang kita, bapak tidak menanya lebih dahulu tentang kami?", alasanku.
  • "Sekolah dimana kalian?", tanyanya.
  • "Sekolah Harapan pak, kalau kakak saya sudah kerja di kejaksaan", bohongku.
  • "Oh berkeja di jaksa, ada keluarga disana?", detail polisi.
  • Ada pak, papa saya jaksa pak, dia kerjanya di Jakarta pak", lebih bohong lagi.
  • "Siapa namanya?", tegang polisi .
Saya menyebutkan salah satu nama jaksa terkenal di Indonesia, karena saya sangat suka menonton berita jadi saya tahu semua nama pejabat di Indonesia. Polisi sangat tegang dan tercengang, polisi awalnya tidak percaya, namun saya mendescribekan jaksa tersebut, akhirnya dia percaya dan keringat dingin.
  • "Maaf dek mengganggu, silakkan dilanjutkan perjalannya", layanan polisi.
  • "Surat tilangnya mana pak? nanti ayah saya mau datang", kata kakakku bingung.
  • "Tidak dek, kalian tidak melanggar, bapak minta maaf, ayahnya jangan suruh kesini dek", mohon polisi
  • "Makasih pak", kakakku sangat bingung. 
Membohongi satu polisi saya berhasil, setiap saya bermotor, ketika di tilang saya selalu berkata begitu, jadi saya tidak pernah ditilang sekali pun, namun ketika saya sedang berjalan dengan keluarga saya di mobil, ada polisi mengetok kaca mobilku.
"Siang pak, mohon maaf boleh ditunjukkan SIM dan STNKnya pak?", hormat polisi.
"Bapak boleh melanjutkan perjalanan, yang perempuan anak bapak?", tanya polisi curiga.
Saya sangat takut sekali ketika polisi melihat saya dengan tatapan yang sangat tajam, kumis yang sangat tebal sambil bergoyang, saya hanya bisa mengumpat muka saya dengan jilbab bercadar -_-.
"Iya pak, ini anak saya", jawab ayahku.
"Bapak berkerja apa pak?", tanya polisi lebih detail.
"PNS pak", jawab ayahku.
"Bapak dibagian jaksa?", tanya polisi lagi.
"Saya tidak berkerja di jaksa pak", ketawa ayahku.
"Baik pak, silakkan diperlanjutkan perjalanannya", hormat polisi.
Astagaaa -,-. Mata polisi terus melihatku sambil melotot, sepertinya polisi sangat hapal dengan mukaku. Saya tidak bisa bikin alasan lagi kepada polisi. Beberapa hari saya mematuhi peraturan, tiba-tiba saya melanggar lagi.
Ketika waktu sore, saya mau pergi jogging ke KI, di depan PS belokkan ke GOR, ada polisi lagi berdiri didekat saya, saya tidak memakai helm, padahal saya sedang menyetir.
"Sore pak :-)", salam manisku.
Polisi hanya tersenyum manis kepadaku, dan dia tidak melihat kepalaku, ketika jarak 700meter saya menghembuskan napas syukurlah polisi sedang berperilaku baik hari ini, lalu terdengar suara motor polisi berlampu, berbunyi nyiunyiunyiu, mulutnya meneriakkanku. Saya langsung menerobos lampu merah, sebagai polisi yang mematuhi rambu lalu lintas polisi itu berhenti karena lampu merah, saya pun legah dan selamat, tapi ada satu polisi lagi yang melihat saya menerobos, akhirnya saya dikejar dua polisi, saya sangat ngebut dengan kecepatan 60km/jam ke atas, ketika saya mau menyebrang, banyak sekali mobil, saya menyelip di bagian-bagian mobil, polisi kehilangan jejak karena motor polisi tidak pas untuk menyelip. Masalah plat motor? Jangan khawatir, saya telah menempelnya dengan plat yang palsu, ketika saya mau bermotor tanpa helm, saya selalu menggunakan plat palsu. Betapa cerdasnya saya :-D.
Ini hanyalah sebuah cerita saya, bagi buat polisi yang baca mohon maaf, mungkin dengan ini para aparat polisi lebih cerdas lagi dan tidak mudah tertipu oleh pengendara seperti saya. Maaf ya pak :-))). Dunia tanpa polisi tidak akan aman, dan tidak akan tertib. :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar